Cantik hanyalah mitos


MITOS KECANTIKAN



            Banyak perempuan zaman sekarang mendambakan kecantikan. Diskripsi tentang konsep kecantikan dibentuk sedemikian rupa, sehingga para wanita sekarang banyak yang mendambakan warna kulit yang putih, tubuh yang tinggi  langsing, wajah yang terawat dan mulus serta rambut yang panjang untuk memenuhi konsep cantik yang beredar di masyarakat luas. Berbagai cara dilakukan kaum perempuan untuk mendapatkan kecantikan yang didambakan. Mulai dari perawatan tubuh di salon dan tempat spa, pemakaian produk-produk kecantikan seperti lulur, pembersih, pelembab, lipstick, eye liner, handboddy, maskara dan lain-lain.bahkan tidak sedikit kaum perempuan di kota-kota besar melakukan oprasi plastik ataupun model sulam alis dan bibir bahkan sampai pemakaian silicon. Di sisi lain banyak sekali produsen kosmetik dan perawatan yang menawarkan berbagai produk untuk mendapatkan kecantikan, baik dari pabrikan maupun klinik kecantikan.

            Kemudian yang menjadi pertanyaan dibenak kita adalah benarkah cantik itu didiskripsikan seperti uraian di atas?. Bukankah kecantikan itu relative, sesuai dengan kultur masyarakat yang ada? Lalu siapakah sesungguhnya yang mengkonsep kecantikan? Tentu saja ini menjadi pertanyaan yang sangat menarik untuk diketahui. Yang pasti, konsep cantik tidak muncul tiba-tiba begitu saja tentu ada yang membentuk dengan kepentingan tertentu.

Kata cantik berasal dari bahasa latin, bellus. Sedangkan menurut kamus  lengkap  bahasa  Indonesia  edisi  keempat  (2008),  cantik mempunyai  arti,  indah,  jelita,  elok  dan  molek.  Kemudian  dalam penerapannya,  pemaknaan seseorang  terhadap  kecantikan  itu  berbeda dan  bahkan  selalu  berubah  dari  waktu  ke  waktu.  Konsep  kecantikan seseorang  di  daerah  tertentu  boleh  jadi  berbeda  dari  konsep  kecantikan seseorang di daerah lain.  Karena  mitos  dan  kriteria  cantik  itu,  banyak  wanita  tergoda terhadap  tawaran  paket  mempercantik  diri  yang  kini  banyak  bertebaran. Mitos  kecantikan  yang  menghinggapi  kaum  perempuan  akhirnya berujung  pada  banyaknya  konsepsi  yang  di  bangun  secara  sosial berkaitan  dengan  makna  cantik  yang  kecenderungan  definisinya,  adalah banyak berangkat dari analisis secara fisik semata.

Cantik menjadi komoditi bisnis yang berakibat eksploitasi besar terhadap perempuan. Pembentukan konsep cantik dilakukan secara massif dan persuasive melalui berbagai media elektronik, cetak, maupun media sosial. Iklan produk kecantikan menampilkan model yang merepresentasikan konsep cantik bentukan pasar, sehingga tertanam dalam alam bawah sadar manusia bahwa menjadi cantik itu seperti yang ditampilkan sang model. Pernahkah kita melihat iklan kosmetik, shampoo, klinik kecantikan, atau iklan baju menggunakan seorang model yang hitam, gemuk memiliki perut buncit, dan keriting?? Tentu tidak…karena mereka tidak merepresentasikan konsep cantik yang sedang dibentuk seperti, kulit putih, kurus, rambut lurus indah.

Dampak konsep cantik yang terjadi begitu luar biasa, tampil cantik sudah menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan yang setara dengan sandang, papan dan pangan. Tampil cantik sudah melekat erat dengan kebutuhan akan sandang. Konsep menjadi cantik diperlebar, tidak hanya pada ranah tata rias wajah, rambut dan kulit, tetapi juga masuk ke ranah sandang yang melekat pada tubuh perempuan. Pasar menentukan “Fashion”, membuat gaya berpakaian yang dianggap terkini dan menunjang penampilan untuk menjadi cantik. Lengkap sudah eksploitasi bisnis pada tubuh perempuan yang mengatasnamakan cantik. Konsep kecantikan bentukan pasar telah mengerdilkan kepercayaan diri perempuan akan tubuhnya sendiri. Perempuan sekarang merasa tidak percaya diri untuk keluar rumah tanpa menggunakan make-up dan pakaian yang sempurna. Belum lagi, tuntutan dunia kerja yang mengharuskan para pekerjanya untuk tampil cantik dan menarik. Sungguh luar biasa, lingkaran ketergantungan terhadap sebuah kata cantik dibentuk sedemikian rupa hingga perempuan sulit lepas dalam kungkungan cantik yang membelenggu. Menjadi cantik merupakan candu, perempuan sebagai subyek pengguna, dan perusahaan kosmetik/ klinik kecantikan adalah bandar yang diuntungkan dalam fenomena kecanduan cantik dengan konsep bentukan pasar.

Konsep  cantik dapat  mempengaruhi  perilaku  masyarakat, misalnya cara seseorang menghargai dirinya dan memandang orang lain. Konsep  cantik  yang  dibatasi  hanya  sebatas  penampilan  fisik  seperti  kulit putih bersih akan sangat merugikan masyarakat.  Eka Sabirin mengatakan bahwa  persepsi  (baca  Konsep)  tentang  “cantik‘,  “ganteng‘  yang berkembang  di  masyarakat  kita  seringkali  salah  kaprah  sehingga  banyak orang yang tidak percaya diri dan tidak ingin bergaul, Padahal, kecantikan atau  kegantengan  fisik  adalah  sebatas  nilai  yang  relatif.  Ia  menyoroti pengaruh konsep cantik yang ada di masyarakat  yang cenderung sangat destruktif. Seseorang dapat kehilangan rasa percaya diri karena ia menilai diri  secara  fisik  dan  ini  sangat  menghambat  perkembangan  kepribadian seseorang.  Ini  hanya  satu  contoh  pengaruh  negatif  ketika  konsep  cantik mengalami pergeseran makna di masyarakat.

            Dari tahun 1975 hingga 1996 ditemukan 1223 jenis obat baru, namun hanya 13 diantaranya dibuat untuk menangani berbagai penyakit tropis yang merenggut jutaan jiwa seperti malaria, tipus-kolera-disentri, demam berdarah, dan lain-lain. Sisanya? Adalah obat anti gemuk, penghalus kulit wajah, penghilang kerut, dan berbagai obat kosmetik lainnya. Mengapa? Karena pasar untuk obat-obatan jenis kedua ini jauh lebih menguntungkan. Maka tak heran juga bahwa porsi terbesar dana untuk riset obat-obatan dilakukan untuk riset kosmetik, anti gemuk dan kecantikan. Tahun 1998, dari 70 miliar dolar alokasi riset obat, hanya 300 juta dolar (0,43%) diperuntukkan riset obat AIDS dan 100 juta dolar (0,14%) untuk riset obat malaria. (majalah the economist, edisi 10 November 2001 dalam demokratisasi kekuasaan bisnis hal 37 ; Yanuar Nugroho)


            Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kecantikan merupakan suatu komoditas yang sangat menguntungkan bagi bisnis. Seorang perempuan bahkan rela melakukan apa saja dan mengeluarkan uang berapapun untuk mendapatkan kecantikan. Sementara banyak sekali peredaran produk kosmetik palsu yang pengunaannya dapat berbahaya bagi si pemakai, banyak pula praktek operasi kecantikan illegal. Bahkan di Korea, melakukan operasi plastic untuk menjadi “Cantik” merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Sungguh ironi!

Komentar