Mengintip Keelokan Danau Kelimutu

ENDE..Never ending story

Sinar matahari pagi bersinar cerah, pagi ini kami harus berkemas meninggalkan Labuan Bajo, menuju destinasi wisata selanjutnya, kota Ende. Menuju Ende bisa ditempuh melalui jalur darat dan jalur udara, namun hasrat untuk menjelajah pulau Flores secara dekat dan mendalam hanya akan didapat jika menempuh perjalanan melalui jalur darat. Maka diputuskan untuk menyewa elf menuju Ende. Berangkat sekitar pukul 10pagi dari Labuan Bajo, dan sampai di kota Ende sekitar pukul 1 pagi. Perjalanan yang melelahkan, tapi lagi-lagi, semua rasa lelah terbayar dengan keindahan Ende. Berikut ini beberapa destinasi wisata Ende yang harus dikunjungi :

1.Rumah pengasingan Ir.Soekarno 

Rumah pengasingan Bung Karno
Kota kecil di pulau Flores ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan Indonesia. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno pernah diasingkan oleh Belanda di kota Ende pada tahun 1934-1938. Rumah yang dulu menjadi rumah pengasingan Soekarno berada ditengah pemukiman penduduk, dekat ibu kota kabupaten Ende. Situs ini benar-benar dijaga perawatan, kerapian dan keaslian benda-benda peninggalan sejarah. Mulia dari perabot rumah tangga seperti meja, kursi, tempat tidur sampai dokumen-dokumen atau tulisan tangan Soekarno masih bisa kita jumpai di etalase-etalase yang dipasang didalam situs. Bagi pecinta sejarah, destinasi wisata ini mampu menghidupkan kembali imajinasi tentang kehidupan Soekarno ditempat pengasingan, jadi jangan lewatkan situs ini dalam daftar kunjungan wisata ketika kita berpertualang di kota Ende.

2.Pantai Nangapanda, pantai sejuta batu

Pantai Nangapanda lokasi tambang batu
Mayoritas pantai di Ende  berpasir hitam dan ditutupi oleh batuan warna. Batuan warna di Ende menjadi komoditas tambang dan banyak dicari oleh para pengusaha bahan bangunan, properti maupun turis asing. Hamparan batu dengan warna hijau, biru banyak diekspor ke Eropa menjadi batu hias untuk mempercantik design interior dalam rumah. Melonjaknya permintaan batu warna yang tak terkendali, memicu munculnya penambangan liar yang hanya mengeruk keuntungan tanpa memperhatikan keberlangsungan ekosistem dan keselamatan lingkungan di lokasi sekitar tambang. Sekarang sudah sesah sekali untuk menemukan batu warna di pantai nangapanda, hanya batuan hitam dengan ukuran, dan bentuk yang beragam yang sesekali masih dikumpulkan oleh penduduk sekitar untuk dijual sebagai batu bahan bangunan.                                                                                                                                                                                                                      


3.Danau Tiga Warna, Kelimutu

Danau Kelimutu dalam cetakan uang 5000
Rakyat Indonesia generasi 90'an pasti mengenal danau Kelimutu yang biasa terlihat dicetakan uang lembaran 5000 rupiah. Beruntungnya, Desember 2015 lalu saya berkesempatan melihat danau Kelimutu secara langsung. Kelimutu berjarak sekitar 1,5jam dari pusat kota, dengan catatan sopir sudah handal dan terbiasa dengan kondisi jalan Kelimutu yang menanjak dan berkelok tiada akhir. 

Sampai di pelataran parkir, jalan menuju kawah kelimutu sekitar 30 menit. Lokasi kawah kelimutu sangat indah untuk menikmati matahari terbit, maka disarankan sekitar pukul 5 pagi para wisatawan sudah berada diarea Kelimutu. Suhu udara cenderung dingin, segar dan berangin khas hawa pegunungan, jadi siapkan baju hangat untuk menjaga tubuh tetap hangat.
Jalan setapak menuju puncak Kelimutu

Setelah melalui jalan setapak, sampailah dipuncak danau kelimutu dimana mata akan disuguhi pemandangan danau dikedua sisi puncak. Sisi kanan puncak terdapat dua danau, dan satu danau disisi kiri puncak.
Danau Kelimutu

Warna air pada ketiga danau Kelimutu selalu berubah dipengaruhi oleh kadar mineral dalam air, namun menurut kepercayaan rakyat setempat ketiga kawah tersebut adalah tempat bersemayam para arwah dan perubahan warnanya dipengaruhi oleh arwah yang masuk kedalam danau.

Mitos tersebut ditulis dalam sebuah prasasti batu yang dapat ditemukan dipuncak kawah dekat gardu pandang. Isi prasasti tersebut..
"Masyarakat percaya bahwa jiwa/arwah akan datang ke Kelimutu setelah seseorang meninggal dunia jiwanya atau maE meninggalkan kampungnya dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau/kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau/kawah yang ada tergantung usia dan perbuatannya. Ketiga danau/kawah seolah-olah bagaikan di cat berwarna. Warna airnya berubah tanpa ada tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut di dalam air menyebabkan warna air yang tidak dapat diduga sebelumnya. Suasana Kelimutu bervariasi, tidak hanya perbedaan dan perubahan warna danau, akan tetapi juga karena cuaca. Tidaklah aneh jika tempat yang keramat ini menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat ini adalah sakral. Hormatilah tempat khusus ini dengan tidak merusak atau mengotori dan tetaplah berada di jalan setapak yang ditentukan."
Terlepas dari berbagai mitos yang ada, kebiasaan untuk tidak melakukan vandalisme dan membuang sampah sembarangan harus kita hindari supaya tetap terjaga keindahan alam bumi pertiwi. Mari berpetualang, mari menikmati segelas kopi dan mari bersyukur atas keindahan Tuhan yang boleh kita nikmati.

Komentar