Culture Shock Hidup di Qatar / Orang Indonesia yang Tinggal di Qatar / Kehidupan Qatar


Pernah gak ngrasain pindah rumah ke luar kota? Atau merantau lah, kerja di kota lain yang berbeda dari kota tempat kita dibesarkan. Apa yang kalian rasain? Pasti ada yang beda dan harus mulai beradaptasi ya? Culture shock apa yang kalian alami?

Nah, kali ini mau crita tentang culture shock orang Indonesia yang tinggal di Qatar. Apa aja sih yang beda? Nih, beberapa fakta yang kuamati & based on my experience, tiap orang pasti punya cerita dan struggle masing-masing, jadi aku gak akan claim kalau yang aku tulis inilah yang paling bener. OK, kita cek ya!

Museum of Islamic Art, QATAR

1. Mayoritas populasi Qatar adalah expatriate (pekerja migran)

Penduduk asli atau yang biasa disebut Qatari paling cuma 30% dari total keseluruhan populasi di Qatar.

Lalu, negara mana penyumbang pekerja migran terbanyak? Jawabannya adalah INDIA.

Jadi, jangan heran kalau jalan kemana-mana lebih banyak ketemu wajah India daripada wajah Arab, makanan yang paling banyak ditemui dan harganya lebih murah juga makanan India. Mulai lah kalian belajar masak, atau menyesuaikan lidah dengan makanan India, biar gak boros di makanan.

Sepertinya Qatar bisa disebut miniatur dunia, kumpulan berbagai bangsa ada semua!

2. Bahasa nasional adalah bahasa Arab, tapi bahasa pemersatu Bahasa Inggris.

Banyak koq expat yang gak bisa bahasa Arab, yang penting bisa bahasa Inggris, semua aman dan lancar jaya. Biasanya ketika tinggal ditempat baru, maka lambat laun akan paham bahasa lokal, tapi tidak semudah itu Fergusoo... Daily conversation disini pakai bahasa Inggris. Mungkin bagi pekerja migran domestik yang kerja di rumah Qatari, mereka akan lebih fasih bahasa Arab daripada bahasa Inggris, karena setiap hari mereka terbiasa dengan bahasa Arab.

Kalau Indonesia punya ribuan bahasa daerah, nah Qatar ini punya ribuan bahasa nasional. Coba aja naik transportasi umum (bus/metro), pasti denger banyak bahasa, & disini normal-normal aja kalau kalian bicara pakai bahasa daerah di tempat umum.


Metro, transportasi umum di QATAR

3. Tinggal di apartemen / rumah model villa / akomodasi yang disediakan kantor

Sekaya atau sebesar apapun gaji para expat, kita gak akan pernah bisa punya properti dengan hak milik. Paling mentok punya properti hak guna bangunan di daerah "Pearl Qatar" , dan tempat tinggal didaerah sini bisa dibilang areal crazy rich, karena harga sewa propertinya yang begitu mahal. Kebijakan ini betul-betul melindungi warga lokal dari "modern slavery", mereka tetap menjadi tuan tanah, dan kaya raya di negara sendiri, bukan seperti negara lain yang malah menjadi budak dinegara sendiri dan merasa inferior dengan para bule.

Properti di Pearl Qatar

Tinggal di apartemen bener-bener beda dengan suasana tinggal di desa, setahun aku di Qatar gak kenal tetangga samping apartemen donk, mukanya aja gak hafal! Nah, kalau gini ceritanya, gimana kehidupan sosial di Qatar? Soal itu, kita bahas dilain cerita ya.

4. Gak ada pedagang asongan, gerobak keliling atau buka lapak di depan rumah

Semua jenis bisnis harus terdaftar secara resmi, harus punya dokumen lengkap dan memenuhi persyaratan. Apalagi bisnis makanan, harus punya standar warung makan versi Qatar. Atau bisnis katering ibu-ibu yang dikerjakan dari rumah walaupun sembunyi-sembunyi buka order untuk kalangan teman-teman sendiri, harus punya izin dulu. Semua bisnis yang ketahuan tidak memiliki izin akan dikenakan denda yang sangat besar, bisa sampai 50K Qatar Riyal atau terancam di deportasi dan kehilangan pekerjaan.

Jadi gak ada ceritanya kita nungguin abang bakso atau abang nasi goreng lewat depan rumah. hehe

5. Cuma ada tukang GAS / LPG yang keliling jualan di areal residen.

Gak ada kang bakso keliling, tapi cuma ada kang LPG. Lucunya lagi, mreka keliling pake truck dengan backsound ice cream conello. Dulu awal-awal disini ya ngiranya ada kang es krim keliling, giliran turun maun beli ternyata kang LPG.

6. Air keran mendidih pas summer(April-Juli)

Cuaca gurun bisa dibilang ekstrim, dimusim panas suhu bisa mencapai 40-450C dan air yang mengalir dari keran panas banget. Jadi kalau mandi usahakan mandi sebelum jam 8 pagi dan setelah jam 7 malam. Karena mayoritas kamar mandi disini hanya ada shower, banyak juga yang menampung air di ember / bath tub lalu diberi es batu dalam botol plastik biar air gak terlalu panas untuk dipakai mandi.

7. Belanja kebutuhan sehari-hari di Supermarket

Gak ada pasar tradisional yang kayak di Indonesia, semua kebutuhan beli di supermarket. Ada sih pasar tradisional namanya Souq Waqif, tapi itu dah jadi pasar wisata.

Souq Waqif

Souq Waqif

Souq Waqif (foto tahun 2019 sebelum pandemi)
Pas masih survey, sebelum memtuskan untuk pindah

So far ini aja sih yang kuinget. Kalau ada pembaca yang mau pindah Qatar, sini kontak aku, aku kenalin ke komunitas yang mungkin cocok. Biar gak terlalu susah untuk bangun relasi sosial, karena disini minim interaksi sosial, apalagi dimasa pandemi gini. Gak ada yang namanya pak RT bu RW atau arisan kompleks. hehehe

Komentar

  1. Menarik sekali sharing pengalamannya kak. Ditunggu cerita-cerita petualangan lainnya ya kak 😍

    BalasHapus

Posting Komentar