Alam Raya Sekolahku

Senin, 25 Januari 2016, berita duka datang dari seorang siswa kelas X Farmasi, Daniel. Hari ini mama Daniel yang semasa hidupnya menderita penyakit kanker, dipanggil menghadap Tuhan meninggalkan suami dan kedua anaknya. Aksi solidaritas muncul dari kalangan siswa, setelah kegiatan belajar mengajar selesai, mereka menggalang dana dan mengumpulkan teman-teman untuk bersama-sama melayat dan memberikan dukungan moral kepada Daniel dan keluarga.
Siang itu, saya dan beberapa kawan guru menyempatkan diri bergabung dengan siswa untuk memberikan penghiburan kepada Daniel, bahkan Langit gelap dan rintik hujan tidak menghalangi niat kami. Setibanya di rumah duka, isak tangis keluarga terdengar mengiris hati, suasana duka begitu kental saya rasakan. Awan gelap semakin menyelimuti hampir seluruh langit Alor, hujan semakin deras, isak tangis sudah digantikan dengan riuh suara hujan disertai angin yang seakan-akan juga menangis atas kematian ibunda Daniel tercinta. Upacara pemakaman diadakan dengan ibadat kematian menggunakan tata cara agama Kristen. Hampir dua jam ibadat pemakaman dilaksanakan, namun hujan tak kunjung reda, bahkan hujan semakin menjadi ketika peti mati diangkat dan dimasukkan kedalam liang lahat tempat peristirahatan terakhir. Suasana duka disertai tangisan histeris dan derasnya hujan semakin membuat pemakaman tampak mencekam.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, namun hujan tak kunjung reda, kami putuskan untuk menerjang hujan dan segera pulang sebelum malam tiba. Hujan deras selama berjam-jam merubah wajah Alor yang dulunya kering, susah air, gersang, dan berdebu, sekarang penuh dengan lumpur licin, rumput liar tinggi menjulang, dan jalanan penuh dengan air. Tiba di sungai Baolang, air mengalir begitu deras dari bukit menuju laut. Topografi Alor yang didominasi dengan gunung dan laut membuat aliran air sungai deras ketika musim hujan, dan sungai kering ketika musim kemarau.
Berfoto di depan ruas jalan yang menjadi aliran sungai ketika hujan tiba. Tampak angkot dan siswa di seberang jalan tidak berani melewati derasnya aliran air.
Aliran air di sungai Baolang begitu deras, kondisi jalan tertutup air, dan tidak ada jembatan yang menghubungkan jalan, semua kendaraan, baik motor maupun mobil tidak bisa lewat. Akhirnya kami putuskan untuk membagi 2 kelompok, kelompok motor dan kelompok pejalan kaki. Teman-teman yang membawa motor, khususnya laki-laki membawa motor naik menyebrang kali melewati jalur gunung yang arus air tidak terlalu kencang, namun jalanan licin dan berlumpur menyebabkan ban motor sering selip dan masuk kedalam lumpur. sedangkan saya dan seorang guru laki-laki mendampingi siswa menyebrangi sungai melewati jalur pantai. Arus sungai sudah tidak terlalu deras ketika bertemu dengan air laut, namun jalur ini cukup berbahaya, karena jika kita terjatuh hanyut oleh arus sungai atau jatuh karena gempuran ombak, tubuh akan langsung terbawa ke lautan.
Seorang guru mencoba berjalan menembus sungai, namun arus terlalu kuat, sehingga memnutuskan untuk mengambil jalur memutar
Tubuh mulai menggigil, rintik-rintik hujan mengguyur, tangan berasa mati rasa hingga membunuh rasa takut akan derasnya arus sungai dan gempuran ombak yang harus disebrangi untuk bisa kembali kerumah bertemu dengan kehangatan keluarga angkat di Alor. Ketika mata sedang sibuk menyibak jalanan berbatu dan berlumpur, memilih jalan yang sekiranya aman untuk dilalui, tiba-tiba tangan terulur didepan badan sambil berkata “Ibu, mari pegang tangan saya.” Seorang siswa dengan sigap menawarkan bantuan untuk menyebrangi sungai, tidak ada ketakutan kulihat dimata mereka. Berjalan perlahan namun pasti, menancapkan langkah dengan kuat untuk berpijak melawan derasnya arus sungai. Kami berjalan beriringan, tanpa komando, siswa membentuk satu barisan, saling berpegang tangan dan menyebrang bagaikan ular panjang yang memenuhi badan sungai. Saya seorang guru di sekolah, guru dengan ruang kelas, meja dan kursi tempat belajar, tetapi dalam situasi ini, saya adalah siswa. Saya belajar banyak hal tentang kerasnya kehidupan tanpa fasilitas umum yang memadahi, belajar tentang membaca alam, belajar toleransi, solidaritas, kebersamaan, kerja keras, dan belajar melawan ketakutan. Kurasakan kehangatan disela dinginnya hujan yang menerpa, perhatian dan kasih sayang yang mereka berikan seakan-akan memberikan kekuatan untuk bertahan, melawan rasa rindu pada sanak saudara di kampung halaman.
SMK N AMPERA, sekolah tempat saya mengabdi selama 1 tahun di Kabupaten Alor
Sesungguhnya, mereka adalah anak-anak hebat, alam yang telah menempa fisik dan mental menjadi generasi emas penerus bangsa, namun apalah daya, tempaan fisik dan mental tidaklah cukup untuk hidup di negeri seribu kertas, Indonesia. Kertas berjudul “IJAZAH” lebih berkuasa dan kuat dibandingkan fisik dan mental anak-anak pedalaman yang sudah terbiasa belajar dari alam. Selembar kertas sakti yang konon katanya bisa merubah tingkat kesejahteraan hidup, selembar kertas yang hanya bisa didapatkan didalam ruang kelas milik sekolah formal selama bertahun-tahun.Tuntutan berbanding terbalik dengan kenyataan, di daerah 3T seperti di kabupaten Alor, fasilitas pendidikan formal tidaklah sehebat seperti sekolah di Jawa dan daerah lain yang lebih maju. Anak-anakku, keterbatasan bukanlah penghalang mimpi, hidup memang harus diperjuangkan, bahkan perjuangan hebat sudah dimulai ketika jutaan sel sperma berebut untuk membuahi sel telur. Dari jutaan sel sperma, hanya 1 sel yang bisa bertahan dan berhasil membuahi sel telur. Peristiwa tersebut mengingatkan kita, bahwa pada hakikatnya seorang manusia adalah seorang pemenang dan pejuang hebat. Semangat belajar anak-anakku, jangan berputus asa dengan keterbatasan, rajut mimpimu dan bergerak mewujudkannya, Indonesia membutuhkan kalian wahai generasi bangsa yang tak kenal lelah. Doa dan harapan Ibu menyertai kalian.

Komentar