Pulau Ternate yang ada dalam gugusan kepulauan di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur memiliki pantai indah
yang biasa menjadi lokasi favorit untuk snorkeling dan diving bagi wisatawan. Selain
pantai dan alam bawah laut yang indah, siapa sangka pulau kecil yang berbentuk
mirip siput disebrang pulau Alor menyimpan begitu banyak kekayaan kearifan
lokal? Ketekunan warganya menghasilkan suatu produk budaya yang menjadi salah
satu harta karun bangsa Indonesia.
![]() |
| Pantai Bogakele, pulau Ternate |
Ketika gemerlap lampu kota besar di Jawa meredupkan
sinar bintang dan bulan, keadaan sebaliknya terjadi pulau Ternate. Sinar lampu
solar cell tidak terlalu terang untuk membuat pulau gemerlap, justru dengan
bantuan sinar bintang dan sinar bulan yang membuat pulau tampak terang dimalam
hari. Pulau ternate hanya memiliki pasokan listrik dari diesel/ genset,
ditambah lagi pulau tidak memiliki pasokan air bersih yang memadahi, hanya ada
1 sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduk yang terbagi dalam 3
desa. Air tersebut sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi, air sumur berasa dan mengandung banyak kapur ketika direbus, tapi tidak ada pilihan lain, hanya itu sumber air bersih dipulau.
![]() |
| Satu-satunya sumur di pulau Ternate. Tampak warga sedang mengantri menimba air. |
Keterbatasan fasilitas tidak menjadi
penghalang bagi warga untuk berkarya menghasilkan produk kerajinan tangan unggulan.
Pulau Ternate dikenal sebagai daerah penghasil kain tenun tradisional dengan
corak khas NTT. Mayoritas penduduk pulau, khususnya kaum pria bekerja sebagai
nelayan, sedangkan perempuan baik tua maupun muda menghabiskan hari dengan
membuat kain tenun. Bahkan, mama Sariat seorang warga pulau Ternate berhasil
menemukan pewarna benang alami dari bahan-bahan organik yang berasal dari alam.
Mama Sariat memiliki rumah sanggar tenun sebagai galeri kain tenun dan pameran
bahan-bahan pewarna alami dan sudah melanglang buana ke berbagai Negara untuk
mengikuti pameran kain tradisional.
| Pengrajin tenun pulau Ternate |
Harga kain tenun beragam, mulai dari
Rp 30.000 s/d Rp 500.000 tergantung bahan, ukuran, dan kerumitan motiv tenun.
Wisatawan biasa datang langsung ke pulau untuk membeli sekaligus melihat proses
pembuatan kain tenun, atau bisa juga membeli di pasar tradisional Baolang yang
hanya buka setiap Jumat pagi.
"Pulau Ternate memang gersang, namun kreativitas dan ketekunan rakyat tumbuh subur untuk menghasilkan produk lokal unggulan yang menjadi kekayaan dan kebanggaan Indonesia."


Komentar
Posting Komentar