Kehidupan Sosial di Qatar

Pindah dan memulai hidup dinegara baru & dimasa pandemi memang punya tantangan tersendiri. Sebagai makhluk sosial tentu kebutuhan untuk bertemu dan menjalin interaksi dengan orang lain juga perlu dipenuhi biar tetep sehat jiwa, raga & mental. Pandemi menghantam dan kita semua dipaksa beraktivitas didalam ruang lingkup kecil yang disebut rumah, semua serba stay at home! From home! Kita yang biasanya beraktivitas diluar rumah, kadang pulang kerumah cuma untuk tidur, sekarang dipaksa melakukan semua aktivitas secara online dari rumah. Istilah kerennya, bisa bikin "cabin fever" karena selalu terkurung dilingkup yang kecil.

Iki lho cah ndeso sing pindah ning Qatar

Apalagi untuk aku "cah ndeso" yang lahir besar di Solo, terbiasa hidup bersosial dengan tetangga kanan kiri, kenal semua orang kampung, bahkan kalau jalan ke mall pasti aja ketemu orang yang kenal. Cabin fever benar-benar aku alami di awal-awal pindah ke Qatar.

Kondisi pandemi dan harus stay at home cukup menyulitkan adaptasi terutama dalam hal kehidupan sosial. Gimana cari temen coba? Ini struggle banget sih, butuh waktu beberapa bulan untuk ketemu sama komunitas yang kurasa cocok. Ketemu secara fisik pun ketika pandemi sudah mulai melandai.

KKI Bersama Duta Besar Indonesia untuk Qatar

Interaksi sosial disini tidaklah sama seperti kondisi di Indonesia, jarang sekali ada orang yang saling bertegur sapa ketika bertemu di taman atau sekedar basa basi ngobrol di transportasi umum. Semua seakan cuek, tak sedikit orang yang beraktivitas sambil berbicara dengan orang lain melalui telepon dengan bahasa daerah mereka. Bahkan ketika memesan taksi online, tidak banyak pembicaraan yang terjadi, si sopir sibuk bercengkrama dengan orang lain melalui telepon. Kasus sopir taksi ini pasti dianggap tidak sopan oleh sebagian rakyat Indonesia, tapi nampaknya sudah menjadi hal yang biasa terjadi di Qatar.

Mayoritas populasi di Qatar adalah pekerja migran, tujuan utama orang datang  adalah untuk bekerja, tak banyak pekerja yang bisa membawa serta keluarganya untuk hidup bersama di Qatar. Sebab kondisi inilah budaya sosial yang terbentuk ya budaya bekerja. Fokus untuk bekerja, lalu disela-sela aktivitas digunakan untuk menghubungi keluarga di tanah air.

Ya, nikmatin aja sih.. Mau pindah kemana aja pasti punya cerita dan struggle masing-masing, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Seiring berjalannya waktu, pasti ada jalan. Yang penting tetap berproses.


Komentar