Menikah dan pindah ke Qatar dimasa pandemi covid-19

 "Selamat menempuh hidup baru." Sepenggal kalimat yang sering diucapkan ketika menghadiri acara pernikahan. Bagiku menikah memanglah awal dari hidup baru, setiap pasangan punya ceritanya masing-masing, dan inilah ceritaku!

Buket & cincin nikah
Segera setelah menikah, kami memutuskan untuk tinggal di Qatar dimana suamiku bekerja. Suami tidak pernah memaksa, tapi ini semua sudah menjadi keputusan bersama sebelum akhirnya kami mantab mengikat janji setia di altar gereja, di depan imam, keluarga dan teman. Menjalani pernikahan tanpa berada dalam kapal yang sama rasanya kurang lengkap, karena esensi menikah bagi kami adalah menjadi teman hidup, teman berdiskusi, itulah mengapa aku meninggalkan semua yang ada di Indonesia untuk memulai perjalanan hidup bersama mengarungi bahtera rumah tangga.

Setelah selesai rangkaian acara pernikahan, aku mantab resign dari pekerjaanku sebagai guru di sekolah internasional di Surabaya untuk ikut menyusul suami tinggal di Qatar. Namun sayang, segala rencana yang telah kami susun untuk memulai hidup baru terkendala oleh pandemi covid-19. Hampir semua negara menutup akses keluar masuk ke negaranya untuk membendung wabah. Setelah beberapa bulan menunggu, akhirnya bulan Oktober 2020 Qatar mulai membuka pintu bagi pendatang sudah memiliki visa.

Hanya seminggu persiapan untuk berangkat ke Qatar, saat itu masih berpikir bahwa wabah mulai melandai dan bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi, maka tidak banyak barang khusus yang kusiapkan, mengingat perlu 7 hari hotel karantina ketika tiba di Qatar, dan masih bisa kembali ke Indonesia setelah selesai mengurus Resident Permit. Tapi ternyata, travel antar negara dimasa pandemi tidak semudah itu fergusooo...

Tulisan selanjutnya akan banyak mengulas tentang perjalanan antar negara selama pandemi dan culture-shock setelah pindah ke Qatar.

Stay tune!!


Komentar