| Suasana kelas SMP Pura, Alor |
Para pendidik di Indonesia, khususnya para pejuang PNS atau sekarang PPPK pasti udah tahu apa yang disebut Sertifikat Pendidik (Serdik). Berbagai group ramai memperbincangkan kesaktian serdik yang bisa menggeser pemegang nilai tertinggi di test online untuk menduduki lowongan posisi. Dalam sistem penilaian CPNS, ada test kedua yang disebut SKB. Pada test ini, para pemegang serdik akan mendapatkan skor sempurna, yaitu 100 dan bisa digunakan untuk mengangkat nilai rata-rata seluruh test. Tak sedikit yang mencibir keistimewaan pemegang serdik ini, bahkan beramai-ramai menilai sistem penilaian tersebut tidak adil.
Bagi
saya, sah saja jika pemegang serdik mendapat keistimewaan tersebut, dilihat
dari perjuangan untuk mendapatkan serdik yang juga tidak mudah, maka negara
perlu mengapresiasi perjuangan tersebut dengan kemudahan dalam test SKB.
Sertifikat pendidik perlu untuk menjaga mutu dan kualitas para pendidik,
sebagai media mengaktualisasikan kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang
pendidik, hal ini juga sejalan dengan profesi lain misalnya advokat, dokter,apoteker
dan profesi lain yang memerlukan pendidikan profesi lebih mendalam sebelum
menyandang gelar profesi tersebut.
Namun,
apakah serdik mampu menjamin profesionalisme guru? Apakah serdik dapat bersaing
di kancah international? Tak sedikit profesi lain melebarkan sayapnya dikancah
internasional, banyak para profesional muda merambah pasar kerja luar negeri,
khususnya negara-negara maju yang banyak memerlukan tenaga profesional muda.
Namun, sedikit sekali Warga Indonesia yang menjadi guru di sekolah internasional di luar negeri. Memang
tak menutup kemungkinan adanya profesional Indonesia yang bekerja disektor
pendidikan, namun mayoritas peran mereka sebatas asisten guru atau guru bantu
(khususnya sekolah SD-SMA). Memang pemegang kunci utama dalam profesi
pendidikan masih didominasi oleh orang Barat (Eropa & USA). Superioritas
terhadap orang Barat masih sangat kental terasa khususnya ketika bekerja di
Qatar, orang Barat dianggap memiliki kelas sosial yang lebih tinggi
dibandingkan dengan orang Asia. Beberapa survey mengenai penghasilan orang
Barat dengan orang Asia dengan posisi yang sama pun bisa menunjukkan hasil yang
jauh berbeda.
Padahal
banyak juga profesional Indonesia yang mumpuni dan tak kalah bersaing dengan
orang-orang Barat. Saya kenal beberapa profesional Indonesia yang menjadi dosen dan
dekan di kampus interasional ternama yang ada di Qatar. Hal ini menunjukkan
bahwa orang Indonesia mampu dan bisa bersaing. Namun, pertanyaannya, apakah ilmu
dan gelar yang mereka dapat berasal dari universitas-universitas dalam negeri
Indonesia? Atau mereka juga produk pendidikan universitas asing? Apakah serdik
mampu menjawab profesionalitas dan kualitas guru-guru Indonesia untuk berkarya
dikancah internasional? Sekali lagi, kualitas pendidikan untuk tenaga pendidik
di Indonesia memang perlu dipertanyakan.
Komentar
Posting Komentar